Wednesday, August 7, 2019

The Seven Steps of Political Marketing

Saya membuat artikel ini dari Daejeon, yang seringkali dikatakan sebagai the Silicon Valley of Korea sebab demikian jumlahnya Pusat Research and Development yang berada di kota ini. jasa kampanye online bisa menjadi pilihan terbaik untuk kamu.

Di Korea, saya mengajar di Solbridge International School of Business sepanjang tiga minggu untuk satu diantara Short Summer Class mereka, yakni Consumer Behavior. Yang menarik, dari penilaian saya ada banyak kesamaan tingkah laku customer di antara Korea serta Indonesia.

Meskipun ada ketidaksamaan besar di antara GDP per Capita, ke-2 negara ini telah alami demokratisasi lumayan lama. Demikian dengan desentralisasi serta penganekaragaman yang berlangsung. Setiap provinsi serta kota di ke-2 negara ini bertambah gemar mempromokan jati diri semasing.

Karena itu, MarkPlus, Inc khususnya MarkPlus Insight telah merajut kerja sama juga dengan Hankook Research yang merupalan local champion di Korea sepanjang satu tahun paling akhir.

Beberapa waktu lalu Chairman Icksang Roh bertandang ke Jakarta yang diikuti dengan kunjungan balasan dari Deputy CEO Michael Hermawan serta COO MarkPlus Insight Farid Subkhan ke Seoul.

Satu diantara kerja sama yang disetujui ialah pemakaian metodologi Political Marketing Research dari Korea yang ampuh. Cara ini telah dikerjakan berulang-kali terhitung akhir kali, untuk memenangi Presiden Park Geun-hye dalam Pemilihan presiden Korea 2012.

Di Indonesia sendiri kami telah mengenalkan metodologi yang terbagi dalam Tujuh Langkah itu pada banyak politikus serta memperoleh masukan benar-benar positif.

Karenanya, saya berpikir berikut waktu yang pas untuk memperkenalkannya di Marketeers edisi kesempatan ini. Siapa tahu dapat menolong banyak politikus Indonesia yang tengah berusaha di Pemilu Legislatif atau Pemilu Presiden tahun 2014 mendatang.

Pendekatan Tujuh Langkah Political Marketing ini dikenal juga dengan pendekatan Micro Targeting. Berarti bagaimana seseorang politikus membuat program kampanye yang cuma konsentrasi pada pemilih mungkin saja, bukan program yang asal tembak pada kebanyakan orang serta tidak pas target.

Langkah berikut akan menolong politikus lebih pas dalam membuat budget penerapan program kampanye yang irit serta efektif sebab tak perlu buang daya serta sumber daya yang terlalu berlebih.

Dalam penentuan Presiden Korea pada 19 Desember 2012, Park Geun-hye lakukan survey dwi mingguan untuk memantau gerakan kepopuleran dibanding dengan calon yang lain. Taktik beberapa calon yang tersusun benar-benar rapi membuat kompetisi antar calon demikian ketat.

Park yang dari pertama tetap unggul dalam beberapa survey, di pertengahan September 2012 lalu, kepopulerannya sudah sempat disalip oleh Moon Jae-in. Tetapi pendekatan 7 langkah Political Marketing ini sudah mengantar Park jadi presiden ke-11 Korea serta presiden wanita pertama di Negeri Ginseng ini.

Pendekatan ini bukan sekedar ampuh untuk pilpres tetapi juga dapat dibuktikan ampuh untuk membuat taktik pemenangan anggota legislatif (DPR).

Dalam pengetahuan marketing, tingkatan seseorang pemilik hak suara dalam memastikan calon yang akan diambil di bilik suara, dengan simpel dilukiskan lewat tiga proses. Pertama, information processing, yakni bagaimana satu orang menyerap info tentang calon. Ini seringkali dikatakan sebagai proses cognitive. Berarti sebegitu kuat seseorang calon ada di pikiran calon pemilih. Dalam bahasa politik tingkatan ini seringkali disebutkan dengan popularity.

Proses ke-2, preference formation. Dalam politik, step ini disebutkan dengan likeability. Di sini seseorang calon pemilih akan lakukan pelajari dan memastikan preferensi pada calon berdasar penilaian logis atau proses afektif yang condong emosional.

Proses ke-3, commitment retention. Pada step ini kemenangan seseorang calon benar-benar dipastikan oleh sebegitu besar loyalitas calon pemilih untuk memilihnya. Dalam bahasa marketing seringkali disebutkan dengan conative atau dalam politik disebutkan dengan electability.

Walau seseorang calon disenangi oleh beberapa orang, tetapi bila loyalitas mereka untuk memilihnya rendah, karena itu calon itu mempunyai efek yang tinggi tidak untuk dipilih. Ditambah lagi bila banyak calon pemilih yang tidak mempunyai preferensi yang kuat dengan calon.

Bagaimanakah cara yang efisien untuk tingkatkan loyalitas calon pemilih supaya pilih calon di bilik suara di hari H? Tujuh Langkah Political Marketing jadi kuncinya.

Langkah awal ialah exposure. Sebegitu besar seseorang calon memperoleh publisitas antara calon pemilih adalah titik gawat pertama. Makin tinggi publisitas calon akan makin baik.

Publisitas mempunyai dua bentuk, yakni yang sifatnya relational atau mediated. Relational berarti seseorang calon dengan tradisionil atau dengan alamiah mempunyai publisitas yang tinggi. Contohnya sebab seseorang calon ialah tokoh warga, aktivis, artis, petinggi dan sebagainya.

Sedang publisitas yang sifatnya mediated didapat dari beberapa usaha yang dikerjakan dengan terencana oleh calon. Contohnya ialah pemasangan banner atau billboard, iklan di TV, radio, media bikin, kampanye program, kegiatan di media sosial yang terorganisir dan sebagainya.

Lewat pendekatan apa pun, exposure benar-benar dibutuhkan buat calon supaya diketahui secara baik oleh beberapa calon pemilih. Step pengenalan itu adalah tingkatan ke-2 dalam political marketing atau seringkali disebutkan dengan awareness.

Awareness atau pengenalan calon yang baik ialah bila publik atau calon pemilih bisa kenal calon dengan benar-benar baik atau thick awareness. Berarti calon bukan sekedar diketahui nama atau mukanya, tetapi visi-misi, reputasi, kredibilitas, sampai personality-nya.

Bentuk lain awareness ialah bila calon cuma diketahui nama atau mukanya saja atau disebutkan dengan thin awareness. Di sini calon benar-benar tidak menempel di hati calon pemilih serta cuma bisa mengharap dari karisma saja. Tetapi bentuk ini mempunyai efek kegagalan yang tinggi sekali.

Tingkatan ke-3, expectancy, yakni bagaimana calon pemilih mempunyai keinginan tersendiri pada calon. Keinginan itu bisa tercipta dari image perception atau message salience.

Image perception berarti keinginan yang tampil di pikiran calon pemilih sebab pencitraan yang muncul dari reputasi calon yang telah terjaga lama. Sedang message salience ialah keinginan yang diakibatkan karena program komunikasi atau pekerjaan kampanye yang dikerjakan oleh calon mendekati penentuan.

Step ke empat, engagement. Sesudah ada keinginan, karena itu calon pemilih akan mempunyai cenderung mengikatkan diri pada calon yang membuat nyaman. Baik keterikatan dengan emosional atau affective engagement atau keterikatan yang berbentuk logis sebab pesan kampanye yang dikatakan atau disebutkan dengan evaluative engagement.

Tingkatan ke lima, preference. Pada siapakah seseorang calon memberi preferensinya untuk pilih calon? Preferensi diberi calon pemilih pada calon sebab unsur kandidatnya sendiri atau sebab unsur parpol.

Di sini seseorang calon harus bisa dengan tentu mengidentifikasi sebegitu besar peluangnya untuk memenangi kompetisi baik sebab unsur profil individu atau sebab unsur mesin politik.

Bila unsur mesin politik lebih menguasai, karena itu jadi PR yang besar buat calon untuk mengarahkan suport serta preferensi calon pemilih padanya. Ini sebab calon harus juga berkompetisi dengan calon lain dari partai yang sama.

Step ke lima ini penting saat seseorang calon lakukan analisa untuk memastikan taktik pemenangan dalam Pemilu atau Pemilihan kepala daerah. Peta suport berdasar preferensi pada calon serta parpol dan dengan kompetitor harus benar- benar dikerjakan dengan tepat supaya langkah pengaturan taktik bisa diatur dengan pas serta efisien.

Suport yang diperlihatkan dari preferensi yang tinggi pada calon serta parpol saja tidak membuat calon aman dalam pencapaian bangku. Ini karena masih ada interval di antara data berdasar preferensi pada saat penerapan survey dengan hari H penentuan di bilik suara. Karena itu, pendekatan Tujuh Langkah Political Marketing ini tempatkan step ke enam yakni commitment jadi tingkatan yang sangat penting.

Walau seseorang calon telah mengatakan suport pada satu diantara calon, tetapi yang dihitung jadi calon suara mungkin ialah calon pemilih yang telah mengatakan komitmennya untuk memberi suara pada calon tersendiri. Dengan begitu, butuh dikerjakan analisa dengan jeli pada mereka yang mempunyai loyalitas positif atau yang negatif.

Pemetaan kemampuan serta kekurangan calon serta parpol berdasar tingkatan ke lima serta ke enam itu sangat penting dalam political marketing.

Survey yang baik dapat menganalisa berapakah besar calon pemilih mungkin untuk seseorang calon dari partai tersendiri serta bagaimana profile dari tiap calon pemilih. Perihal ini pula yang disebutkan dengan micro targeting strategy.

Dalam micro targeting dibutuhkan micro messaging untuk tiap barisan calon pemilih mungkin. Seseorang calon harus dapat mendesain program kampanye berdasar desas-desus yang sentuh kebutuhan tiap barisan calon pemilih mungkin.

Survey sendiri harus dikerjakan dengan pendekatan sample atau kuantitatif atau dengan kualitatif yang merepresentasikan pemetakan barisan calon pemilih mungkin dengan tepat.

Step paling akhir atau ke-7 ialah action. Sesudah seseorang calon mempunyai basis calon pemilih mungkin yang banyak, karena itu butuh dikerjakan beberapa langkah untuk pastikan jika calon pemilih itu memberi suaranya di hari H penentuan. Edukasi serta komunikasi yang intens butuh dibuat oleh calon dengan terus-terusan sampai hari H penentuan.

Pada praktiknya banyak calon pemilih yang tidak memakai haknya alias golput. Walau sebenarnya mereka punya potensi memberi suport pada calon tersendiri. Untuk pastikan berapakah banyak pemilih yang memakai haknya untuk calon, butuh dikerjakan monitoring yang ketat oleh beberapa relawan dan lakukan survey penghitungan cepat lewat quick count. kampanye online sangat membantu memperkenalkan kepada masyarakat.

0 on: "The Seven Steps of Political Marketing "

Silahkan Berkomentar dengan Sopan dan sesuai dengan apa yang sedang dibahas.